Januari 09, 2014

Dinamika Konflik Dalam Organisasi


Kasus : Rumah Sakit Kolombo
          Kolombo merupakan rumah sakit umum yang melayani suatu daerah yang berpenduduk sekitar 50.000 orang. Direktur Utama dari Rumah Sakit Kolombo ialah Bapak Subaki, pensiunan dokter ahli dan pernah mengikuti pendidikan manajemen. Bapak Subaki memulai pertemuan dengan saudara Asmuni, seorang administrator Rumah Sakit untuk mencari penyelesaian mengenai konflik wewenang yang jelas terlihat antara saudara Rinto dengan Kepala Bagian Operasi, dr. Hastomo.
          Awalnya dr. Hastomo memberikan tantangan kepada Bapak Subaki untuk bermain golf di Lapangan Golf milik Atma Jaya. Ajakan ini hanya sebuah alasan dr. Hastomo agar bertemu dan mendiskusikan masalah rumah sakit dengan Bapak Subaki.
          dr. Hastomo mempersoalkan masalah yang menyangkut supervisor ruang operasi, Rinto Panggabean. RInto meminta agar penggunaan ruang-ruang operasi rumah sakit harus dibuat maksimum bila biaya-biaya rumah sakit diturunkan.  Hal inilah yang menjadi salah satu sumber kejengkelan para ahli bedah. Rinto membuat skedul serangkaian kegiatan operasi rumah sakit sesuai dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dia “percaya” telah digariskan oleh administrator rumah sakit. Rinto menyusun skedul bahwa waktu menganggur ruang pengoperasian harus diminimumkan. Para ahli beda mengeluh, karna skedul demikian membuat para ahli bedah tidak memiliki waktu cukup dalam mempersiapkan prosedur pembedahan. Sehingga penanganan terhadap pasien akan memiliki kualitas yang rendah. Namun dalam hal ini Rinto menunjukkan pilih kasih. Rinto mengizinkan beberapa dokter menggunakan ruang operasi dengan jangka waktu yang lebih lama.
          Situasi mencapai kritis ketika dr.Hastomo yang sedang menghadapi konfrontasi eksplosif dengan Rinto, memberitahu bahwa dia memecat Rinto.Rinto mengajukan banding kepada administrator rumah sakit yang memberi informasi bahwa pemecatan para perawat adalah hak administratif. Namun, dr. Hastomo menegaskan bahwa dia memiliki wewenang terhadap segala masalah yang mempengaruhi praktik medis dan perawatan pasien secara baik dalam rumah sakit.
          Setelah pertemuan Antara Subaki dan Asmuni mulai, Asmuni menjelaskan posisinya pada masalah yang terjadi. Asmuni menekankan bahwa seorang administrator secara legal bertanggung jawab atas perawatan pasien. Namun, kualitas penanganan pasien tidak dapat dicapai tanpa direktur memberikan wewenang nya terhadap administrator.
          Selama mendengarkan Asmuni, Subaki menempatkan dirinya pada posisi dr. Hastomo yang berlawanan, yang berpendapat bahwa para ahli bedah memegang hak istimewa staf dan tidak pernah membiarkan seorang awam membuat keputusan mengenai praktik medis. dr. Hastomo juga menyatakan bahwa Asmuni harus diberitahu untuk membatasi kegiatannya mengenai masalah administratif, bukan masalah medis. dr.Hastomo meminta Subaki memperjelas garis-garis wewenang dalam Rumah Sakit Kolombo.
          Setelah pertemuan berakhir, kepelikan masalah telah jelas. Tetapi penyelesaian masalah yang belum jelas. Subaki menyatakan perlu dibuat suatu keputusan segera.

Pertanyaan Kasus:
1. Mengapa saudara berpendapat bahwa konflik telah berkembang di rumah sakit Kolombo?
          Saya berpendapat bahwa konflik telah berkembang di rumah sakit Kolombo karena terlihat jelas pada masalah yang ada. Awalnya, Rinto memiliki konflik terhadap para ahli bedah mengenai penjadwalan yang ada. Ketika masalah rumit ini ada, ternyata dr.Hastomo menyatakan bahwa dia memecat Rinto. Rinto tidak terima dengan keputusan yang ada. Maka ia membandingkan dengan pernyataan administrator menganai pemecatan adalah hak administratif. Akhirnya timbulah keputusan-keputusan individu yang sudah tidak lagi berada pada garis wewenang yang semestinya  yang mengakibatkan banyak nya pihak-pihak yang terlibat dalam masalah ini.
2. Apakah penetapan garis-garis wewenang secara jelas akan memecahkan semua masalah-masalah yang digambarkan dalam kasus? Mengapa atau Mengapa tidak?
          Menurut saya, apabila penetapan garis-garis wewenang secara jelas akan memcahkan semua masalah-masalah yang ada. Karena, dengan adanya garis garis wewenang yang jelas maka tiap tiap individu sudah memiliki hak dan kewajibannya masing-masing. Sehingga tidak sembarangan mengambil keputusan sendiri. Contohnya pada kasus ini, Rinto mengambil keputusan sendiri dalam membuat skedul operasi rumah sakit tanpa meminta ijin atau persetujuan dari dr.Hastomo selaku kepala bagian operasi. Akhirnya dr.Hastomo tidak terima dengan sikap Rinto sehingga dia membuat keputusan sendiri untuk memecat Rinto tanpa adanya persetujuan administratif. Hal ini terjadi, karena tidak adanya garis wewenang secara jelas. apabila garis wewenang jelas, maka dr. Hastomo dan Rinto tidak akan mengambil keputusan sendiri terhadap konflik mereka. Namun, akan meminta persetujuan terhadap pihak-pihak yang memiliki wewenang tersebut.
3. Apa yang harus dilakukan Bapak Subaki?

          Menurut saya yang harus dilakukan Bapak Subaki selaku direktur utama Rumah Sakit Kolombo adalah mengadakan rapat atau pertemuan dengan melibatkan individu individu yang memiliki konflik tersebut. Dalam rapat ini Bapak Subaki sebaiknya bersikap adil, tidak memihak pada individu manapun dan ikut serta dalam menemukan jalan keluarnya. Setelah itu Bapak Subaki menjelaskan kembali wewenang pada garis nya masing-masing sehingga tidak akan timbul lagi masalah seperti itu.

0 komentar:

Posting Komentar