Sejak awal, keluarga
Devi menolak kehadiran Mario. Ia berasal dari keluarga yang biasa saja, tidak
populer dan bukan keluarga terpandang. Keluarganya khawatir bahwa Mario tak
dapat membahagiakan Devi kelak, sehingga akhirnya cinta mereka berdua harus
disembunyikan dari semua orang di sekelilingnya.
Karena tekanan
keluarga tersebut Devi menjadi ragu akan cinta Mario. "Sebesar apakah
cintamu padaku?" tanyanya suatu hari pada Mario. "Aku tak pandai
berkata-kata, tetapi suatu saat nanti kau akan tahu sebesar apa
cintaku..." kata Mario. Jawaban itupun membuat Devi jadi semakin bimbang.
Ia berpikir, mungkin keluarganya benar. Mungkin ia harus merelakan cintanya
dengan Mario dan tidak berusaha mempertahankannya lagi.
Kemarahan Devi
terhadap jawaban Mario membuatnya tak ingin bertemu lagi dengannya. Ia mengacuhkan
Mario dan membuatnya menderita rasa pedih karena patah hati.
Tak lama kemudian,
Mario memutuskan untuk mengejar pendidikan ke luar daerah. Meninggalkan kota
asalnya dan berusaha menyembuhkan lukanya.
Lima tahun berlalu,
sekalipun Devi merasa kecewa terhadap Mario, ia tak bisa melupakannya walau
sedetik saja. Di dalam hati, cintanya terhadap Mario masih kokoh tertanam di
sana.
Teringat pada sebuah
cafe kecil tempat mereka biasa bertemu diam-diam, Devipun tertegun. Tanpa
disadari sebuah mobil melaju kencang di depannya. Mobil yang dikendarainyapun
tak sanggup menghindar. Ia dilarikan ke rumah sakit dan harus mendapat
penanganan serius.
"Ia sudah
melewati masa krisisnya, bu. Tetapi ia akan kehilangan suara,
selamanya..." jelas dokter menghancurkan hati kedua orang tua Devi. Sejak
saat itupun Devi lebih banyak memilih menyendiri. Usulan orang tua untuk pindah
ke desapun diterimanya.
Hari itu sahabat
Devi datang membawa sebuah amplop. Sambil bercerita girang ia tak mempedulikan
Devi yang masih terbengong mendengar kata Mario. "Kamu tahu nggak sih
ternyata Mario sudah pulang sebulan lalu. Aku juga kaget waktu menerima
undangan ini, makanya aku cepat-cepat menyetir mobilku ke sini. Dia ingin aku
menyampaikan amplop undangan pernikahannya." kata sahabatnya.
Devi tertegun. Air
matanya mengalir deras dan ia kesal karena ia tak dapat berkata apapun. Ia
hanya bisa menyimpan semuanya dalam hati. Berlarilah ia ke halaman dan duduklah
ia di bawah pohon tempat ia biasa melamun. Dibukanya amplop berwarna biru
terang itu perlahan. Ia sudah pasrah dan akan rela menerima kecewa yang pantas
diterimanya.
Tak terbayangkan.
Saat ia membuka undangan tersebut, namanyalah yang tertera di sana. Dengan
undangan tersebut, Mario melamarnya. Memintanya menjadi mempelai baginya minggu
depan nanti. Devipun akhirnya tahu bahwa Mario telah mempersiapkan semua tetek
bengek pernikahan dalam waktu sebulan ini. Ia juga tahu benar bagaimana
kondisinya lewat sahabatnya.
"Dan inilah
jawaban pertanyaanmu hari itu. Inilah besarnya cintaku padamu..." suara
Mario mengagetkan dari belakang.
Berlarilah Devi dan
memeluk Mario dengan erat {}


0 komentar:
Posting Komentar