Januari 15, 2016

Sistem e-Prescribing

e-Prescribing
Sistem Administrasi Terintegrasi Dalam Jaringan Intranet Puskesmas:
“Sistem Pencatatan Kartu Pasien, Sistem Pengiriman Resep & Sistem Pencatatan Obat”

1.     Latar Belakang
Puskesmas yang memiliki pasien dalam jumlah banyak memiliki lemari kartu pasien yang besar dengan ribuan kartu pasien. Puskesmas yang memiliki pasien dalam jumlah banyak dihadapkan pada beberapa masalah administrasi, diantaranya masalah penanganan kartu pasien, pencatatan catatan medis pasien, pencatatan obat-obatan, dan proses pembuatan laporan bulanan (baik laporan obat maupun laporan data jumlah penyakit). Setiap hari petugas pendaftaran harus mencari kartu pasien yang datang memeriksakan diri ke Puskesmas. Jika pasien yang datang belum memiliki kartu pasien, petugas pendaftaran membuatkan kartu pasien baru. Proses pencarian atau pembuatan kartu pasien ini memakan waktu yang cukup lama karena masih dilakukan secara manual. Petugas harus mencari kartu pasien setiap kali pasien mendaftar dan menyimpannya kem- bali setelah pasien selesai diperiksa. Proses pencarian dan penyimpanan kembali kartu pasien ini cukup menyita waktu. Kadang kala terjadi penggandaan kartu pasien untuk pasien yang sudah pernah mendaftar. Hal tersebut mengakibatkan seorang pasien akan memiliki lebih dari 1 kartu pasien. Penanganan kartu pasien seperti ini sangat tidak efektif baik dari segi waktu pelayanan maupun dari sisi ekonomi (pengadaan kartu pasien).
Selain administrasi kartu pasien yang tidak efektif tersebut, pencatatan rekaman data medis pasien di Puskesmas tidak akurat. Hal ini antara lain disebabkan minimnya sistem pencatatan yang handal untuk merekam semua data pemeriksaan pasien. Informasi yang disimpan dalam kartu pasien belum terlalu lengkap. Terlebih lagi pencatatan data medis yang semuanya dilakukan secara manual sering kali terbentur pada kekurangtelitian/kekurangcermatan manusia (human error).
Pencatatan obat-obatan yang diterima Puskesmas dan pencatatan keluarnya obat dari Puskesmas juga masih dilakukan secara manual. Sama halnya dengan kedua permasalahan di atas, pencatatan yang dilakukan secara manual tak bisa terlepas dari ketidakakuratan data akibat keterbatasan manusia. Pemakaian obat tidak terdeteksi semuanya sehingga sangat dimungkinkan timbulnya ketidakcocokan antara laporan pemakaian dan stok obat yang ada.
Proses pembuatan laporan bulanan juga menjadi masalah tersendiri bagi Puskesmas karena memakan waktu cukup lama untuk membuat laporan. Hal ini karena laporan dan sumber-sumber laporannya masih berupa laporan tertulis. Misalnya untuk membuat laporan obat, petugas farmasi setiap hari harus menyalin resep ke dalam laporan pemakaian obat; setiap akhir bulan petugas harus menghitung dan mencocokan laporan obat tersebut dengan stok yang ada. Contoh lain, setiap hari petugas harus menyalin catatan medis pasien yang berobat ke dalam catatan jumlah penyakit yang terjadi. Setiap bulan petugas yang sama harus menyalin ulang catatan jumlah penyakit tadi ke dalam laporan bulanan (Laporan LB1).

2.     Tujuan
Perangkat lunak Sistem Resep Elektronik ini diharapkan dapat membantu Puskesmas dalam masalah administrasinya. Beberapa tujuan yang ingin dicapai dari pengembangan perangkat lunak ini antara lain :
·    Membuat proses pencatatan kartu pasien yang lebih akurat (menghindari pencatatan ganda untuk pasien yang sama).
·        Membuat proses pencarian kartu pasien yang cepat.
·    Membuat proses pencatatan rekaman data medis pasien yang lebih akurat. Rekaman data medis pasien meliputi catatan pemeriksaan (diagnosis, anamnesa) dan catatan resep yang diberikan.
·     Membuat proses pembuatan laporan menjadi lebih cepat dan akurat. Dengan pencatatan data yang akurat tentunya akan menghasilkan laporan yang akurat pula.

3.     Ruang Lingkup Pembahasan
Program e-prescribing sebagai sistem administrasi terintegrasi yang akan dipakai di Puskesmas. Program ini akan dirancang untuk dapat digunakan sebagai alat pencatatan kartu pasien, pengiriman resep, pencatatan catatan medis pasien, dan pencatatan laporan obat.

4.     Spesifikasi Sistem
Pasien yang datang ke Puskesmas mendaftarkan diri ke bagian pendaftaran. Petugas di bagian pendaftaran melakukan pemeriksaan ke dalam basis data untuk mengetahui apakah pasien tersebut sudah memiliki kartu berobat. Pencarian ke dalam basis data dilakukan dengan menggunakan kata kunci pencarian berupa nama pasien atau nomor pasien tersebut. Jika kartu pasien tersebut tidak ada di dalam basis data, petugas pendaftaran membuat kartu pasien baru. Data pasien dimasukkan ke dalam basis data dengan menggunakan Sistem e-prescribing. Selanjutnya pasien menunggu giliran periksa. Saat tiba gilirannya, pasien masuk ke ruang dokter. Dokter memeriksa catatan medis pasien tersebut apabila pasien sudah pernah memeriksakan diri ke Puskesmas. Setelah memeriksa pasien, dokter membuat resep (memilih obat yang akan diberikan dan dosisnya) dengan menggunakan Sistem Resep Elektronik pada fitur pengiriman resepnya. Semua data pemeriksaan (diagnosis, anamnesa, denyut nadi, tekanan darah, pemeriksaan fisik) dituliskan juga ke dalam field yang bersesuaian di halaman kirim resep e-prescribing. Setelah semua data dimasukkan, dokter menyimpan resep tersebut ke dalam basis data. Proses pemeriksaan selesai, pasien yang bersangkutan meninggalkan ruang pemeriksaan menuju ruang pengambilan obat. Pegawai farmasi di bagian obat memeriksa arsip resep dengan menggunakan Sistem Resep Elektronik. Petugas farmasi dapat memilih resep yang akan ditampilkan. Resep dapat ditampilkan berdasarkan nomor resep atau tanggal resepnya. Setelah membaca resep yang dikirimkan dokter, petugas farmasi dapat menjalankan tugasnya untuk menyiapkan obat yang diminta dalam resep tersebut. Setelah semua obat disediakan, petugas farmasi mengubah status resep tersebut. Saat status resep diubah, Sistem e-prescribing akan secara otomatis mengupdate data stok obat (mengurangi stok yang ada dengan jumlah dosis obat yang diberikan). Dengan demikian, data stok obat akan selalu update. Sistem e-prescribing ini dirancang untuk digunakan pada sebuah jaringan komputer client-server. Program hanya diinstal pada komputer server, semua komputer client terhubung ke server dengan menggunakan hub/switch. Oleh sebab itu, semua proses dilakukan di sisi server. Pengguna program di sisi client mengakses program ini dengan menggunakan browser internet. Spesifikasi Sistem Resep Elektronik ini ditunjukkan pada Tabel 4.1 :
Tabel 4.1 Spessifikasi Sistem e-Prescribing
Fitur
Keterangan
Pencatatan Kartu Berobat Pasien

Sistem ini dirancang memiliki kemampuan membuat dan menyimpan kartu berobat pasien. Pencatatan kartu berobat pasien dilakukan dengan Sistem e-prescribing ini, untuk kemudian disimpan di dalam basis data program. Kartu berobat yang disimpan dalam basis data berisi antara lain data diri pasien dan catatan medis pasien yang bersangkutan.
Pencatatan Resep

Dengan menggunakan Sistem e-prescribing ini, dokter mencatat hasil pemeriksaan medis dan menuliskan resep untuk pasiennya. Program akan menyimpan catatan medis dan resep tersebut ke dalam basis data program. Resep yang disimpan di dalam basis data tersebut akan diakses oleh petugas farmasi Puskesmas untuk menyediakan obat yang diminta dokter.
Pencatatan Obat
Sistem ini dilengkapi kemamapuan untuk mencatat data keluar masuknya obat dari dan ke luar Puskesmas. Data obat yang masuk dan yang keluar dari Puskesmas akan dicatat semuanya, sehingga Puskesmas akan memiliki catatan yang akurat mengenai penggunaan obat yang sudah diberikan Dinas Kesehatan.
Pembuatan Laporan Obat
Sistem ini dilengkapi kemampuan untuk membuat laporan pemakaian obat. Laporan obat dibuat antara lain untuk melaporkan jumlah obat yang diterima Puskesmas dalam periode laporan, melaporkan jumlah obat yang dipakai selama periode laporan, dan jumlah sisa stok obat yang masih dimiliki Puskesmas. Laporan yang dihasilkan dalam bentuk Microsoft Excel dan juga dalam bentuk halaman web.
Pembuatan Laporan LBI
Sistem ini juga dilengkapi kemampuan membuat laporan bulanan (Laporan LB1) yang isinya adalah data kasus penyakit yang terjadi selama 1 periode laporan. Kasus penyakit dibedakan menurut kategori penyakit dan kategori umur pasien. Laporan yang dihasilkan dalam bentuk Microsoft Excel. Laporan LB1 dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Kota setiap bulannya.

Diagram blok dari sistem ini ditunjukan pada Gambar 4.1 berikut ini
 

Gambar 4.1 Diagram Blok Sisem e-prescribing
4.1.Keunggulan Sistem
Sistem e-prescribing ini adalah sebuah program yang berbasiskan web. Aplikasi yang dibangun berbasiskan web memiliki beberapa keunggulan antara lain adalah :
·      Kompatibilitas program tinggi. Program Resep Elektonik memiliki kompatibilitas yang tinggi antara lain karena program ini dapat digunakan pada sistem operasi apapun (baik Windows, Unix, Linux, dll). Atau dengan kata lain, program berbasis web dapat bekerja pada semua sistem operasi yang mendukung protokol TCP/IP (dan memiliki browser internet).
·      Bersifat freeware. Sistem e-prescribing ini dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman web (HTML, PHP, dan basis data MySQL) dan digunakan dengan perangkat lunak yang juga freeware yaitu PHP Triad. Perangkat lunak PHP Triad tersedia bebas di Internet, di dalamnya sudah mencakup Apache Web Server, MySQL Server, dan PHP Engine.
·      Kebutuhan (requirement) perangkat keras tidak terlalu tinggi. Sistem e-prescribing ini mampu dijalankan pada komputer ‘generasi tua’, asalkan komputer tersebut mampu menjalankan sistem operasi yang menyediakan fasilitas browser internet. Akan tetapi kemampuan komputer sangat mempengaruhi kinerja dari program.

4.2  Deskripsi Umum Perangkat Lunak
Perangkat lunak yang akan dibangun ini akan diberi nama Sistem e-prescribing. Sistem e-prescribing ini adalah sebuah perangkat lunak yang digunakan sebagai sistem administrasi Puskesmas. Ada 3 fungsi dasar dari perangkat lunak ini yaitu :
·      Membuat dan menyimpan kartu berobat pasien. Pencatatan kartu berobat pasien dilakukan dengan Sistem Resep Elektronik ini, untuk kemudian disimpan di dalam basis data program. Kartu berobat yang disimpan dalam basis data berisi antara lain data diri pasien dan catatan medis pasien yang bersangkutan.
·      Membuat dan menyimpan resep yang dibuat dokter. Dengan menggunakan Sistem Resep Elektronik ini, dokter mencatat hasil pemeriksaan medis dan menuliskan resep untuk pasiennya. Program akan menyimpan catatan medis dan resep tersebut ke dalam basis data program. Resep yang disimpan di dalam basis data tersebut akan diakses oleh petugas farmasi Puskesmas untuk menyediakan obat yang diminta dokter.
·      Mencatat data keluar masuknya obat dari dan ke luar Puskesmas. Data obat yang masuk dan yang keluar dari Puskesmas akan dicatat semuanya, sehingga Puskesmas akan memiliki catatan yang akurat mengenai penggunaan obat yang sudah diberikan Dinas Kesehatan.
Selain fungsi-fungsi dasar tersebut, Sistem e-prescribing dilengkapi dengan fungsi lain yaitu pembuatan laporan (laporan pemakaian obat dan laporan data penyakit yang paling sering terjadi), fungsi pencarian data pasien (baik kartu berobatnya maupun resep milik pasien tersebut), dan fungsi pencetakan resep. Program ini dirancang untuk diimplementasikan pada jaringan komputer Puskesmas. Sistem jaringan yang digunakan adalah sistem client-server. Satu komputer yang digunakan sebagai server adalah komputer di bagian pendaftaran, sementara komputer di ruang dokter dan ruang farmasi bertindak sebagai client.
4.3  Pemodelan Fungsional dan Aliran Informasi
Pemodelan fungsional dilakukan dengan merancang aliran data dan proses-proses yang tergabung  di dalamnya.  Untuk menggambarkan model aliran data  tersebut digunakan Diagram Aliran Data (Data Flow Diagram/DFD ). Data Flow Diagram adalah  sebuah teknik grafis yang menggambarkan aliran informasi dan transfor- masi yang diaplikasikan  pada saat data  bergerak dari input  menjadi output. DFD dapat  dipartisi  ke dalam tingkat-tingkat yang merepresentasikan aliran in- formasi yang bertambah dan fungsi ideal. DFD tingkat 0 (dikenal pula dengan na- ma Diagram Konteks) merupakan  model sistem yang paling dasar,  DFD tingkat 0 merepresentasikan seluruh  elemen sistem sebagai sebuah  lingkaran  (“bubble” ) tunggal  dengan  data  input  dan output  yang ditunjukkan oleh anak panah  yang masuk dan keluar secara berurutan. Diagram konteks pada Gambar  4.3.1 menunjukkan aliran informasi paling dasar dalam Sistem Resep Elektronik.
Ada 4 entitas  eksternal (yang digambarkan dengan  bentuk  persegi) yang berin- teraksi  dengan sistem yaitu : dokter,  petugas pendaftaran, petugas farmasi, dan administrator. Masing-masing entitas  eksternal  tersebut memproduksi  informasi untuk  digunakan  oleh sistem dan mengkonsumsi informasi yang dihasilkan  oleh sistem.  Gambar  anak panah yang diberi label merepresentasikan objek data atau hirarki tipe objek data. Contohnya anak panah dengan label membuat dan menyimpan  kartu  pasien,  merepresentasikan objek data  yaitu  data-data dalam kartu  passen.
Gambar 4.3.1.  Diagram Konteks

Diagram konteks dapat  diuraikan  ke dalam bentuk  DFD tingkat 1. Setiap proses yang direpresentasikan pada  tingkat  1 merupakan  subfungsi dari seluruh  sistem yang digambarkan dalam model konteks.   Proses digambarkan dengan sebuah lingkaran  yang diberi label dan  diberi nomor;  proses menggambarkan transformasi yang diaplikasikan  ke data  dan  mengubah  data  tersebut  dengan  berbagai cara.  
Ada 12 proses yang digambarkan dalam  DFD  tingkat 1 Sistem e-prescribing tersebut  yaitu  :  
1). Pencarian  Kartu  Pasien
2). Pembuatan Kartu  Pasien Baru
3). Membaca  Catatan Medis Pasien
4). Membuat  Resep
5). Membaca Resep
6). Menyiapkan  Resep
7). Membuat Laporan  Obat
8). Menambah  Data Jenis/Jumlah Obat
9). Membuat  User Baru
10).Menambah  Data  Jenis Penyakit/Data Puskesmas
11). Membuat  Laporan  LB1
12). Autentifikasi.
   Nomor pada masing-masing proses tidak mewakili urutan kejadian/urutan kepentingan  dari masing-masing proses. Selain entitas  eksternal  yang digambarkan dengan  persegi  dan  proses  yang  digambarkan dengan  lingkaran,  dalam  DFD tingkat 1 tersebut  ada pula gambar media penyimpanan data  yang digambarkan dengan garis ganda yang dilengkapi dengan label
Gambar 4.3.2 DFD Level 1


4.4  Database Mapping
Untuk memahami kebutuhan informasi yang terdapat pada sistem selanjutnya dilakukan pemetaan ERD(Entity Relationship Diagram) ke relational database kemudian mengimplementasikannya dalam bentuk physical database. Tabel-tabel hasil Mapping ERD selengkapnya dapat dilihat pada gambar berikut



Gambar  4.4.1 Database Mapping

 

Gambar 4.4.2 Database Mapping (lanjutan)
 
Gambar   4.4.3 Database Mapping (lanjutan)

Tanda 1 bintang pada gambar di atas menunjukkan kunci utama (primary key) sedangkan tanda 2 bintang menyatakan kunci asing (foreign key).
5.     Kesimpulan
E-Prescribing dapat meningkatkan akses ke pelayanan kesehatan dan meningkatkan kualitas dan efektifitas dari pelayanan yang diberikan. Sistem resep elektronik (e-prescribing) meliputi produk obat-obatan dan jenis penyakit dalam menulis resep elektronik
Sistem e-prescribing pada penelitian ini sudah dapat memenuhi kebutuhan fungsional dan non fungsional yang didefinisikan dalam proses perancangan perangkat lunak. Secara umum sistem resep elektronik ini sudah bisa memenuhi spesfikasi yang dirumuskan pada awal proses perancangan.
Beberapa masalah yang dapat terjadi jika menggunakan sistem e-prescribing antara lain :
a.     Terjadinya pemadaman listrik PLN yang bisa mengganggu pelayanan pasien.
b.     Kemungkinan kerusakan perangkat keras, gangguan perangkat lunak (misalnya virus) dan gangguan pada jaringan sehingga pegawai klinik tidak bisa mengoperasikan program resep elektronik.
Untuk mengatasi kemungkinan masalah yang bisa timbul tersebut ada beberapa hal yang perlu dilakukan sebagai usaha pencegahan yaitu :
a. Perlu adanya pihak yang bertindak sebagai administrator teknis dari sistem e-prescribing. Teknisi ini diharapkan bisa mengatasi masalah yang tidak bisa diatasi oleh pegawai klinik (misalnya saat komputer terkena virus, jaringan dan sebagainya). Teknisi ini bisa saja merupakan pihak eksternal klinik yang dikontrak secara profesional untuk melakukan perawatan sistem.
b.   Penggunaan UPS (Uninterruptible Power Supply) atau pemasakan generator listrik, jika dimungkinkan, untuk mencegah terhambatnya pelayanan kesehatan masyarakat ketika terjadi pemadaman listrik.
c.    Pemberian pelatihan teknis kepada pegawai klinik untuk mampu mengatasi masalah- masalah yang mungkin terjadi. Hal ini dilakukan supaya klinik tidak terlalu tergantung kepada teknisi luar jika sistem e-prescribing mengalami gangguan.






REFERENSI
[1]  Centers for Medicare & Medicaid Services 2008, E-Prescribing, Available from : http://www.cms.gov 8 Desember 2015
[2]      Pressman, Roger S.. 2007. “Rekayasa Perangkat Lunak : Pendekatan Praktisi (Buku II) Roger S Pressman: Di Terjemahkan oleh LN Hamaningrum. Andi,Yogyakarta
[3]   E-health initiative, the centre for improving Medication Management, American Medical Association, American Academy of Family Physicians, America College Physicians, Medical Group Management Association 2008, A CLINICIAN’S GUIDE TO ELECTRONIC PRESCRIBING, Washington DC, http://www.ehealthinitiative.org, diakses tanggal 3 Januari 2016
[4]     Health Report 2001, E-Prescribing : Prepared First Consulting Group, California Health Care Fondation





0 komentar:

Posting Komentar